Kiat-Kiat Melunasi Hutang
“Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia
terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka
dia akan masuk surga”. (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shohih)
Berikut beberapa kiat-kiat membebaskan diri dari hutang
menurut Ustadz Awan Abdullah :
1. Dibayar
Jika kita mempunyai hutang
tentunya harus dibayar. Namun, maksud dari ini yaitu fokus terhadap utang yang
kita miliki dan tidak memenuhi keinginan nafsu untuk membeli yang lain tanpa
memikirkan pelunasan utang sebelumnya.
Adanya keinginan perlu adanya usaha untuk mencapai keinginan tersebut.
Usaha dalam masalah utang bisa dengan membuat celengan, dan celengan ini tidak
hanya untuk keperluan membayar hutang. Bisa juga membuat celengan untuk
keperluan lain seperti tabungan haji, atau lainnya yang bersifat urgent.
Hal ini tentunya perlu merutinkan untuk mengisi celengan dengan uang yang
dimiliki, dan ambillah nominal yang paling besar. Usahakan tiap mengisi
celengen tersebut, dan disarankan mengisi pada saat menjelang shubuh atau
setelah shubuh, karena saat itu malaikat berbondong-bondong turun ke bumi.
2.
Jangan Berhutang
Mempunyai hutang bukan berarti
bebas berhutang di lain tempat untuk menutup hutang di awal. Justru adanya hal
itu menjadikan kita berada dalam lingkaran hutang.
Tawakallah pada Allah SWT. Bahwa
pertolongan Allah itu dekat. Dalam Surat Al Baqarah ayat 214 Allah berfirman,
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk
surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan
Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
Apapun yang
dialami, baik itu susah atau bahagia, tenangkanlah hati. Di kala Imam Syafi’I
mendapat informasi dari anak buah kapal bahwa kapalnya rusak, beliau
mengucapkan Alhamdulillah. Tak lama kemudian, Imam syafi’I mendapat kabar bahwa
kapal yang rusak bukanlah kapal miliknya melainkan kapal orang, maka beliau
ucapkan Alhamdulillah. Ketenangan hati tak hanya karena mendapat kabar buruk
namun kabar baik pula, karena ketengan hati akan mendapat pertolongan dari
Allah SWT.
3.
Mencuri Perhatian Allah SWT
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan
berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al Maidah
: 35)
Bagaimana mencuri
perhatian Allah SWT? Yaitu dengan amalan-amalan khusus. Saat Ustadz Yusuf Mansur
berada dalam jeruji besi beliau mentadaburi Al Qur’an, memahami betul apa yang
berada dibalik ayat-ayat di Al Qur’an.
Keluar dari penjara, Ustadz Yusuf Mansur saat
itu tidak mempunyai banyak uang, tetapi beliau sibuk membangung rumah-rumah,
dan bukan rumah untuk dihuninya melainkan rumah-rumah yang dijadikan pondok
pesantren yang kini kita kenal dengan PPPA Darul Qur’an. Ketika kita
mendahulukan urusan akhirat maka urusan dunia akan mengikuti. Begitulah yang
diterapkan Ustadz Yusuf Mansur.
Selain itu, Ridho orang tua terutama ibu
kita juga tidak kalah penting. Ketika ridho ibu telah hadir, selalu didoakan
ibu kita, maka rezeki akan lancar begitu saja tanpa ada hambatan berarti.
Salah satu cara mendapat ridho ibu yaitu
dengan mencium kakinya. Dalam hal ini, niatkan diri untuk mencari ridho orang
tua bukan bermaksud menyembah.
4.
Jangan Pernah Menolak Seseorang yang berhutang
kepada kita
Berkorbanlah karena Allah bukan karena ingin dilihat oleh manusia.
Berkorbanlah karena Allah dengan ikhlas tanpa mengingat-ingat dan mengharap
balasan.
Orang yang ingin dimudahkan dalam segala hal, maka mudahkanlah urusan
orang lain. Boleh jadi perbuatan baik sekecil biji sawi akan dibalas dengan
yang lebih besar. Jangan ragu, tebarkanlah kebaikan dimanapun kamu berada dan
ingatlah jasa orang-orang yang telah memberikan kemudahan kepada kita.
“Barangsiapa meringankan sebuah
kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan
kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang
dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat.
Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia
dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba
tersebtu menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)
Wallahua’lam. Semoga Bermanfaat.
Resume Kajian Ustadz Awan Abdullah di Masjid Al Haq
Yogyakarta, 1 Oktober 2017

Tidak ada komentar